Tampilkan postingan dengan label Belajar Dari Semut Dan Kutu Daun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Dari Semut Dan Kutu Daun. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Desember 2009

MELKUKAN PERUBAHAN ATAU MATI

Organisasi harus melakukan perubahan untuk dapat menyesuaikan dengan lingkungaanya yang kompetitif. Perubahan bersangkut-paut dengan perihal membuat sesuatu dengan lain. Teknologi, persaingan, kejutan ekonomi, perubahan sosial, angkatan kerja dan politik dunia merupakan kekuatan yang merangsang perubahan. Teknologi informasi yang canggih dapat mengubah cara bersaing, sehingga dapat meningkatkan keunggulan bersaing perusahaan. Meskipun demikian CEO Unilever, Floris A. Maljers mengatakan ”Kendala terbesar yang dihadapi perusahaan dalam menghadapi globalisasi adalah terbatasnya sumberdaya manusia, bukan terbatasnya modal”.

Dalam buku Why Companies Fail, Mark Ingebretsen mengatakan “Perusahaan harus memprediksi masa depan untuk mendeteksi tren-tren yang harus mereka hadapi jika ingin terus menghasilkan laba. Perusahaan juga harus merancang cara untuk mengadapsi produk-produk dan layanan-layanan mereka demi menjangkau grup-grup konsumen yang belum terdefinisikan. Yang paling penting dari semua ini, perusahaan harus menyadari kenyataan bahwa perubahan berskala besar adalah kelaziman, sementara perubahan-perubahan yang mengguncang dunia adalah bagian dari kelaziman baru. Karenanya mereka harus mengarahkan strategi untuk menghadapi perubahan. Serangan 11 September dengan tragis memperlihatkan bagaimana kejadian mengubah segalanya, kadang-kadang hanya dalam waktu semalam.” Pemimpin yang sukses bertindak luwes dan luwes dalam menghadapi perubahan. Bahkan, ia merasa senang akan perubahan yang menyentuh dirinya yang paling dalam.

Kebanyakan perusahaan mati, karena bawahan harus selalu mengikuti pemimpinnya yang tidak pernah berubah. Ahli sejarah, Alfred D. Chandler, Jr, didalam bukunya berjudul Strategy and structure kemajuan perusahaan-perusahan Amerika, karena mau melakukan perubahan, khususnya dalam sistem manajemennya. Chandler meneliti empat perusahaan besar Amerika, yaitu General Electric, Du-Pont, Standard Oil company dan Exxon. Kesediaan berubah dari CEO keempat perusahaan tersebut yang menjadikan perusahaan tersebut hingga kini tetap bertahan.

Karyawan adalah nasi, sedangkan gaya manajemen adalah lauknya. Jack Welch, CEO dari General Electric ketika itu mengatakan “Kita sedang mempertaruhkan sesuatu hal kepada orang-orang kita, maka kita perlu memberdayakan mereka, memberi mereka sumber-sumber dan keluar dari kesulitan dengan menggunakan cara mereka”. Jack Welch menginvestasikan separuh waktunya bersama karyawannya, maka ia mengenal mereka, berbicara dengan mereka tentang masalah-masalah perusahaan, memuji mereka jikan kinerjanya baik, tetapi mencaci mereka jika kinerjanya turun. Ia mengenal sekitar 1000 karyawannya yang mempunyai ide bagus dan mempunyai tanggungjawab atas pekerjaan mereka. Pendekatan pribadi yang dilakukan Jack Welch kepada karyawannya membuahkan kasil yang luar biasa pada peningkatan kinerja. “Jika Anda menang, kita semua menang” demikianlah kata Welch. Itulah sebabya 27.000 karyawan General Electric memiliki saham. Pada 2001, General Electric terpilih sebagai ”The Most Admired Company in The World” peringkat pertama versi Fortune.

“Dua pemimpin korporat terbesar abad ini adalah Alfred Sloan dari General motors dan Jack Welch dari General Electric. Dan Welch akan jadi lebih besar dari keduanya, karena merencanakan paradigma baru, kontemporer, bagi korporasi yang modelnya dipakai untuk abad 21,” ujar Noel Tichy, dari Universitas Machigan, pengamat lama gaya manajerial Wech. Dengan demikian, apakah kita akan melakukan perubahan atau mati ?

Sumber artikel : Mohammad Suyanto
read more...

RUH PERUSAHAAN SUKSES

Dalam buku Muqaddimah, Ibnu Khaldun memberikan sumbangan dengan lintas disiplin model dinamik. Keseluruhan model Ibnu Khaldun dapat diringkas dalam nasihatnya kepada para raja sebagai berikut. Kekuatan kedaulatan (al-mulk) tidak dapat dipertahankan kecuali dengan mengimplementasikan syariah. Syariah tidak dapat diimplementasikan kecuali oleh sebuah kedaulatan (al-mulk). Kedaulatan tak akan memperoleh kekuatan kecuali bila didukung oleh sumber daya manusia (ar-rijal). Sumber daya manusia tidak dapat dipertahankan kecuali dengan harta benda (al –mal). Harta benda tidak dapat diperoleh kecuali dengan pembangunan (al – imarah). Pembangunan tidak dapat dicapai kecuali dengan pembangunan (al-adl). Keadilan merupakan tolok ukur (al-mizan) yang dipakai Allah untuk mengevaluasi manusia dan Kedaulatan mengandung muatan tanggung jawab untuk menegakkan keadilan.

Nasihat ini mencerminkan karakter dinamik dan lintas disiplin dari analisis Ibnu Khaldun. Ia bersifat lintas disiplin karena menghubungkan semua variabel politik dan sosioekonomi yang penting, seperti Syariah (S), otoritas politik atau wazi (G), manusia atau rijal (N), harta benda atau mal (W), pembangunan atau imarah (g) dan keadilan atau al-adl (j), dalam sebuah daur perputaran interdependen, masing-masing mempengaruhi yang lain dan pada gilirannya akan dipengaruhi oleh yang lain pula. Mengingat operasi daur ini terjadi dalam sebuah reaksi berantai dalam suatu perioede yang panjang suatu dimensi dinamisme dimasukkan ke dalam keseluruhan analisis dan membantu menjelaskan bagaimana faktor-faktor politik, moral, sosial dan ekonomi berinteraksi terus menerus dan mempengaruhi kemajuan dan kemunduran atau jatuh dan bangunnya suatu peradaban. Hal ini juga berlaku jatuh bangunnya perusahaan ditentukan oleh Syariah (S), kebijakan manajemen (G), kualitas sumberdaya manusia (N), modal perusahaan (W), kinerja perusahaan (g) dan keadilan (j) yang diterapkan dalam perusahaan.

Dalam buku At-Tibr al-Masbuk fi Nashihah al-Muluk, yang ditulis oleh Al-Ghazali dikisahkan Zaid bin Aslam bertutur sebagai berikut : Pada suatu malam , aku melihat Umar bin Khaththab berkeliling bersama para peronda malam. Aku menemuinya dan berkata “Bolehkah aku menemanimu?”. Umar menjawab “Tentu”. Ketika kami ke luar kota, kami melihat api, kami berkata “Mungkin di sana ada seorang pengembara”. Kami menuju api itu. Kami melihat seorang janda perempuan dengan tiga anaknya yang sedang menangis. Perempuan itu telah menaruh panci di atas api tersebut. Perempuan itu berkata “Ya Allah berilah aku keadilan dari Umar. Ambilkan hakku darinya dengan benar. Dia kekenyangan sedang kami kelaparan.” Mendengar perkataan itu Umar menghampirinya dan mengucapkan salam kepadanya. Ia kemudian berkata “Bolehkah aku mendekat kepadamu?”. Perempuan itu berkata “Jika engkau mendekati aku untuk berbuat baik maka dengan nama Allah aku ijinkan”. Umar mendekat dan bertanya kepadanya mengenai keadaan dia dan anak-anaknya. Perempuan itu berkata “Aku dan anak-anakku datang dari tempat yang jauh. Aku merasa takut sedangkan mereka merasa lapar. Aku dan anak-anakku sudah kelelahan dan kelaparan sehingga mereka tidak bisa tidur”. Umar bertanya “Lalu apa yang ada dalam panci itu?” Perempuan itu berkata “Aku menaruh air di dalam panci itu untuk mengalihkan perhatian mereka sehingga mereka mengira bahwa itu adalah makanan. Dengan demikian mereka akan bersabar.” Umar pergi menuju toko makanan untuk membeli makanan. Dia pergi ke toko tepung dan membeli tepung sekarung penuh. Kemudian menaruh karung itu di pundaknya dan pergi menemui perempuan tadi dan anak-anaknya. Zaid berkata “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku memanggul karung itu.” Umar berkata “Kalau engkau memanggulkan karung itu untukku, lalu siapa yang akan menanggung dosaku dan yang akan menghalangi aku dari doa perempuan dan anak-anaknya itu?”. Akhirnya Umar memanggul sendiri karung itu sambil menangis hingga sampai tempat perempuan tadi. Perempuan itu berkata “Terima kasih, semoga Allah membalas kebaikanmu dengan balasan yang lebih baik.” Umar mengambil beberapa bagian tepung dan sejumlah makanan, kemudian menaruhnya dalam panci dan menyalakan apinya. Setiap kali apinya mati, dia meniupnya sehingga debunya berjatuhan ke wajah dan pakaiannya. Dia lakukan itu sampai makanan tersebut matang. Kemudian Umar menaruh makanan itu di dalam mangkuk besar dan berkata kepada perempuan tadi “Makanlah”. Akhirnya, perempuan dan anak-anaknya makan makanan tersebut. Umar berkata “Wahai perempuan, janganlah engkau mendoakan kecelakaan bagi Umar karena sesungguhnya dia tidak mengetahui berita tentang keadaanmu dan anak-anakmu.” Umar menghadirkan hati dan jiwa dalam meminpin.

Dalam buku Corporate Mystic perusahaan-perusahaan yang sukses dalam jangka panjang, para manajernya sangat menjaga etika dan menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual. Mereka bukan hanya menghadirkan uang, melainkan juga melainkan juga hati dan jiwa mereka dalam bekerja., sesuai nasehat Ibnu khaldun tersebut. Hati dan jiwa merupakan ruh perusahaan yang sukses.

Sumber artikel : Mohammad Suyanto

read more...

SUPER TEAM

Bill Gates dan Paul Allen merintis Microsoft pada 1975. Perusahaan tersebut ketika itu masih kecil, tetapi mempunyai mimpi “Sebuah komputer di atas setiap meja kerja di setiap rumah, menjalankan perangkat Microsoft”. Microsoft menciptakan sistem operasi MS-DOS, kemudian membuat Windows (Jendela-jendela) yang terdapat di hampir setiap rumah dan kantor. Akhirnya sekarang telah terbukti, sistem operasi Windows menguasai 80 % sistem operasi dunia. Untuk menggapai mimpi tersebut. Microsoft hanya memperkerjakan orang-orang cerdas dan kemudian membentuk tim-tim kecil yang kreatif untuk mengerjakan suatu proyek dalam waktu tertentu. Setiap individu mempunyai peran yang sesuai dengan pengetahuan dan ketrampilan masing-masing. Setiap unit di perusahaan ini melakukan pekerjaan dengan pola yang relatif sama, yaitu membuat tim kerja yang relatif kecil dan secara bersama-sama menyelesaikan tugas dengan sukses.

Setiap tim kerja di Microsoft, mempunyai kebebasan untuk menentukan cara terbaik menyelesaikan tugas dengan kreativitas yang mereka miliki. Meskipun demikian tetap dibingkai oleh pedoman tertentu. Keputusan-keputusan kecil masih menjadi kekuasaan ketua tim kecil. Rancangan besar tujuan dan kegiatan proyek selalu dipresentasikan kepada semua anggota untuk dibahas bersama-sama. Setiap tim kerja mengajukan cara pendekatan yang akan digunakan untuk menyelesaikan proyek. Proposal kemudian didiskusikan dan dibahas. Proposal yang ditolak, tim kerja harus membuat proposal baru. Keberhasil Microsoft bukan semata-mata karena Bill Gates dan Paul Allen, tetapi lebih ditentukan oleh tim kerja.

Pada suatu hari, saya kedatangan tamu, yaitu Bapak Ir Azmiral, Manajer IT (Information Technology) dari PT. Phama Persada Nusantara,, anak perusahaan United Tractor. Setelah ramah tamah di ruang saya, kemudian “Selamat Pak Yanto” Pak Azmiral menyalami saya. “Kenapa Bapak memberi selamat kepada saya” jawab saya heran. “Pertama. Alumni STMIK AMIKOM Yogyakarta yang bekerja di PT. Phama Persada Nusantara terbanyak, mengungguli ITB, UI dan UGM. Kedua, selama saya bekerja di PT. Phama Persada Nusantara, baru pertamakali dalam sejarahnya, ada seorang karyawan dapat naik jabatan dalam dua tahun dua kali. Karyawan tersebut, mahasiswa Anda” kata Pak Azmiral. ”Terima kasih Pak ” jawab saya., setengah tidak percaya, kemudian saya bertanya . ”Apa keunggulan anak-anak alumni STMIK AMIKOM menurut Bapak ?” . ”Secara intelgensi anak-anak alumni STMIK AMIKOM masih kalah dengan anak-anak alumni dari ITB, UI dan UGM, tetapi anak-anak alumni STMIK AMIKOM kalau bekerja secara tim dapat mengalahkan anak-anak dari ITB, UI maupun dari UGM” jawab Pak Azmiral.

Demikian juga karyawan di STMIK AMIKOM Yogyakarta , barangkali secara individu kalah dengan karyawan perguruan tinggi swasta lainnya, tetapi secara tim karyawan STMIK AMIKOM lebih baik, sehingga merupakan satu-satunya Sekolah Tinggi di Kopertis Wilayah V yang dapat menembus angka 1400 mahasiswa baru pada tahun akademik 2003/2004. Untuk menggerakkan organisasi dengan kecepatan tinggi, bukan dengan superstar, tetapi dengan super team.

Sumber artikel : Mohammad Suyanto

read more...

RAHASIA SUKSES

Sesudah bangunan Ka’bah yang rusak, diperbaiki setinggi orang berdiri, tiba gilirannya untuk meletakkan Hajar Aswad yang disucikan di tempatnya semula di sudut timur, maka timbullah perselisihan di kalangan Quraisy, siapa yang seharusnya mendapat kehormatan meletakkan batu itu di tempatnya. Demikian memuncaknya perselisihan itu sehingga hamper saja timbul perang saudara karenanya. Keluarga Abd’d Dar dan keluarganya ‘Adi bersepakat tidak akan membiarkan kabilah manapun campur tangan dalam kehormatan yang besar ini. Untuk itu mereka mengangkat sumpah bersama. Keluarga Abd’d Dar membawa sebuah baki berisi darah. Tangan mereka dimasukkan ke dalam baki itu guna memperkuat sumpah mereka. Karena itu lalu diberi nama La’aqat’d-Damm, yang berarti jilatan darah.

Abu Umayya bin’l-Mughira dari Banu Makhzum merupakan orang yang tertua di antara mereka, dihormati dan dipatuhi. Setelah melihat keadaan serupa itu ia berkata kepada mereka ”Serahkanlah putusan kamu ini di tangan orang yang pertama sekali memasuki pintu Shafa ini”. Tatkala mereka melihat Muhammad adalah orang pertama memasuki tempat itu, mereka berseru : ”Ini al-Amin, kami dapat menerima keputusannya”. Lalu mereka menceritakan peristiwa itu kepadanya. Iapun mendengarkan dan melihat di mata mereka betapa berkobarnya api permusuhan itu. Ia berpikir sebentar, lalu berkata ”Kemarikan sehelai kain”. Setelah kain dibawakan, dihamparkannya dan diambilnya batu itu lalu diletakkannya dengan tangannya sendiri, kemudian Muhammad berkata ”Hendaknya setiap ketua kabilah memegang ujung kain ini”. Mereka bersama-sama membawa kain tersebut ke tempat batu itu akan diletakkan. Lalu Muhammad mengeluarkan batu batu itu dari kain dan meletakannya di tempatnya. Dengan demikian perselisihan itu berakhir dan bencana dapat dihindarkan. Muhammad melakukan apa yang dalam manajemen disebut berfikir menang-menang yang dapat mewujudkan sinergi.

Pengalaman juga mengajarkan kepada saya, ketika akan mengadakan seminar yang ditujukan kepada anak-anak SLTA tentang ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri. Pembicara baru memberitahu kesediaannya ketika waktu tinggal satu minggu. Seminar rencananya diadakan pada hari Sabtu. Setelah seluruh persiapan telah selesai, pada Rabu pagi jam 10.00 wib, saya mengumpulkan staf saya untuk mendengarkan pendapatnya agar peserta seminar tersebut, banyak pesertanya. Saya telah menulis sepuluh strategi dalam satu lembar kertas untuk mendatangkan peserta. Tetapi strategi tersebut saya simpan di atas meja tanpa seorang stafpun yang tahu.

Setelah seluruh staf saya kumpul, kemudian saya meminta ide dari staf saya. “Kawan-kawan saya mohon ide dari Anda, bagaimana agar seminar kita Sabtu besok banyak pesertanya. Kita tinggal punya waktu 3 hari”. “Pak Yanto. Kita pasang iklan di koran” kata staf saya yang pertama. ”Bagus ” puji saya, sambil mencoret salah satu strategi saya yang ada di lembar kertas. ”Pasang iklan di radio” kata staf saya yang kedua. ”Bagus ” puji saya, sambil mencoret lagi salah satu strategi saya yang ada di lembar kertas. ”Kita kerjasama dengan asrama mahasiswa” kata staf saya yang ketiga. ”Bagus ” puji saya, sambil mencoret ketiga strategi saya yang ada di lembar kertas. ”kerjasama dengan bimbingsan tes” kata sta saya yang ketiga. Saya juga melakukan hal yang sama, menghargai ide mereka sambil mencoret ide saya yang sama dengan ide mereka. Saya tidak mengatakan bahwa ide mereka sama dengan ide saya, tetapi saya mencoba menghargai ide mereka, saya seakan-akan tidak punya ide meskipun ide saya telah saya tulis dalam selembar kerta. Saya mengatakan kepada staf saya semua untuk menjalankan idenya masing-masing. Luar biasa, saya tidak menduga kalau jumlah peserta seminar akhirnya melampaui 1000 peserta. Saya hanya memadukan dan menghargai ide mereka. Itulah yang disebut sinergi, yang merupakan rahasia sukses perusahaan.

Sumber artikel : Mohammad Suyanto

read more...

Belajar Dari Pohon Pisang

Pohon pisang merupakan tumbuhan ciptaan Tuhan yang bermanfaat bagi manusia. Pohon pisang tumbuh di daerah tropis seperti, Asia, Australia, Afrika dan Amerika
Falsafah pohon pisang dipakai oleh PT Gobel Dharma Nusantara untuk menggerakkan Sumberdaya manusianya untuk dapat bersaing dengan perusahaan lainnya. Perusahaan yang berpatungan dengan perusahaan Matsushita ini menghasilkan produk Panasonic yang mampu melakukan ekspor.

Falsafah ini di temukan oleh pendiri PT. Gobel Dharma Nusantara, Thayeb Mohammad Gobel pada 1954.

Pohon pisang merupakan pohon yang bermanfaat semuanya. Buah pisang bentuknya melengkung panjang dan berwarna kuning atau merah. Dagingnya lunak berwarna kuning dan manis rasanya apabila telah matang dan mengandung vitamin. Daunnya dapat dipakai untuk bungkus nasi pecel, bungkil, botok, nogosari dan sebagainya.

Pelapahnya untuk mainan anak-anak, yaitu mainan kuda-kudaan dan senapan-senapanan. Jantungnya dapat dibuat sayur dan pohonnya dapat dipakai untuk meletakkan wayang dalam pertunjukan wayang kulit. Bahkan kulit pisangpun dapat dimakan kambing.

Filosofi ini menggambarkan bahwa karyawan di PT Gobel Dharma Nusantara membuat seluruh produk yang bermanfaat bagi masyarakat dan melakukan kerjasama dalam kelompok.

PT Gobel Dharma Nusantara menggunakan manajemen mandiri yang membuat sistem manajemen yang efisien, mendengarkan dan memuaskan pelanggan. Semua yang ada di sekitarnya adalah pelanggan, misalnya masyarakat, pemodal, pemasok, pemerintah, lingkungan, atasan, bawahan dan teman kerja. Pemasok dan distributor sama-sama berdiri dan sejahtera.

PT Gobel Dharma Nusantara berusaha menghasilkan produk yang bermanfaat, sesuai dengan kebutuhan dan mempunyai kualitas tinggi dengan harga terjangkau dan pelayanan memuaskan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Keuntungan untuk pemodal, karyawan, kelangsungan usaha dan pajak serta untuk kesejahteraan masyarakat.

''Tidak ada diantara kita yang saling menzalimi.'' demikian kata pucuk pimpinan PT Gobel Dharma Nusantara.

Pohon pisang sebelum menghasilkan buah, bila dipotong, maka akan tumbuh lagi sampai menghasilkan buah. Setelah menghasilkan buah, barulah pohon pisang tersebut siap untuk mati.

Karyawan PT Gobel Dharma Nusantara melakukan pengabdian secara total. Sebelum menghasilkan karya terbaik, mereka pantang untuk keluar dari perusahaan. Siap berkorban demi tercapainya tujuan perusahaan untuk meraih kebahagiaan bersama.

Karyawan berfikir, bahwa ia bekerja di pabrik milik sendiri yang kecil, dan menjalankan usaha dengan penuh keikhlasan, dan kerendahan hati. Kemajuan dan perkembangan hanya dapat direalisasikan melalui usaha bersama dan kerjasama dari setiap karyawan perusahaan. Bersatu padu dalam semangat, berikrar untuk melaksanakan tugas di perusahaan dengan dedikasi tinggi, ketekunan, dan integritas.

Tetapi sebelum mati, anak-anaknya telah tumbuh di sekitar pohon tersebut dan telah siap menggantikan induknya.

Pimpinan PT Gobel Dharma Nusantara telah memproses kelangsungan keturunannya untuk meneruskan jalannya perusahaan agar tetap menjadi perusahaan yang unggul dalam persaingan. Seluruh karyawan diberdayakan melalui pengembangan individual sebagai intinya dan merupakan tanggung jawab pribadi dan perusahaan untuk mengabdi kepada masyarakat sebagai pemegang tongkat estafet dari pendahulunya.

Sumber artikel : Mohammad Suyanto
read more...

Belajar Dari Semut Dan Kutu Daun

Jenis semut dan kutu daun tertentu memiliki hubungan yang disebut simbiosis. Dalam simbiosis, binatang berbeda jenisnya saling membantu. Kutu daun merupakan serangga kecil yang bergerak lamban, hidup pada tumbuh-tumbuhan dan memakan nektar
Nektar itu dihisap dari batang pohon dengan mulutnya yang tajam dan panjang. Sewaktu dicerna, nektar berubah menjadi bahan manis yang disebut embun madu. Bahan ini kemudian dikeluarkan oleh kutu melalui organ yang disebut kornikula. Embun madu ini makanan kegemaran semut merah, yang memakan sebanyak yang dapat dihasilkan oleh kutu daun itu. Dengan memelihara ternak kutu daun, semut memiliki cadangan yang selalu siap sedia.

Untuk melindungi cadangan embun madunya, semut sangat memperhatikan kutu daun miliknya. Misalnya, semut memindahkan kutu itu ke tempat yang banyak nektarnya, dan apabila wilayah pencarian makanan itu menjadi terlalu padat, semut akan memindahkan kutu itu ke wilayah yang lebih longgar. Semut juga menyerang setiap serangga yang mencoba memakan kutu daun itu, sekalipun si penyerang mungkin jauh lebih besar daripada semut itu sendiri.

Ilmuwan belum memperoleh kepastian kapan atau bagaimana hubungan istimewa ini dimulai. Akan tetapi, dengan ditemukannya semut serta kutu daun yang telah menjadi fosil bersama-sama, terbukti bahwa dua jenis serangga ini telah saling membantu sekurang-kurangnya sejak 30 juta tahun yang lampau. Kisah semut dan kutu daun tersebut, menurut Stephen R Covey, disebut efektivitas, yang merupakan keseimbangan antara produksi dan kemampuan produksi.

Produksi merupakan hasil yang dinginkan, yaitu embun madu. Sedangkan kemampuan produksi adalah kemampuan atau aset yang menghasilkan embun madu, yaitu kutu daun. Semut berusaha untuk memelihara dan menjaga kutu daun sebaik-baik, agar kutu daun tersebut tetap menghasilkan embut madu. Semut melakukan tindakan yang efektif.

Dalam bisnis, sering kita mencari keuntungan atau hasil jangka pendek dengan merusak kemampuan produksi atau aset fisik, misalnya mobil, komputer, telepon, fax, bahkan tubuh kita atau lingkungan kita. Kita jarang memelihara atau merawat mobil, komputer, telepon dan fax. Setelah aset tersebut rusak, maka kita baru sadar bahwa aset tersebut merupakan aset kunci. Biaya untuk memperbaiki aset tersebut jauh lebih mahal daripada memelihara aset tersebut secara rutin. Maka kita telah melakukan hal yang tidak efektif.

Kita juga sering berbicara tentang pelayanan pelanggan. Kita sering mengabaikan orang yang berurusan dengan pelanggan, yaitu karyawan. Sehingga kita baru sadar setelah sedikit demi sedikit pelanggan meninggalkan kita. Kepercayaan dan loyalitasnya kepada kita hilang. Biasanya justru kita menyalahkan karyawan. Itulah tindakan yang tidak efektif. Kalau kita ingin karyawan kita memperlakukan pelanggan dengan baik, maka kita juga harus memperlakukan karyawan seperti pelanggan kita.

''Anda dapat membeli tangan seseorang, tetapi tidak pernah dapat membeli hatinya. Hatinya adalah tempat berada antusiasmenya, loyalitasnya. Anda dapat membeli punggungnya, tetapi tidak dapat membeli otaknya. Itulah tempat kreativitasnya, kecerdasannya, akalnya, '' kata Stephen R Covey.

Untuk bertidak efektif ternyata kita harus belajar kepada semut dan kutu daun.

Sumber artikel : Mohammad Suyanto
read more...