Tampilkan postingan dengan label BELAJAR DARI PENJUAL KORAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BELAJAR DARI PENJUAL KORAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Desember 2009

BELAJAR DARI PENJUAL KORAN (4)

Ia selalu mengantarka koran ke rumah saya dengan meletakkan di meja depan atau di kursi depan, tidak seperti penjual koran lain biasanya dilemparkan. Biasanya sebelum meletakkan koran di meja depan rumah saya mengucapkan salam “Assalamu ‘alaikum Pak”. Saya jawab “wa alaikum salam” dan kadangkala saya jawab lebih lengkap“ wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.” Dalam surat an-Nisa’ ayat 86 : Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.

Kadangkala saya menyongsongnya untuk menghargainya, karena ia telah mengorbankan sedikit waktu untuk menyerahkan koran. Kata-katanya yang meriah dan senyumnya yang tak pernah saya lupakan sambil memberikan koran kepada saya. “Terima kasih Pak” jawab saya sambil menerima koran tersebut. Penjual koran tersebut melanjutkan perjalanannya mengantarkan koran dari rumah ke rumah pelanggan setianya.

Salam pertama kali diajarkan oleh Nabi Adam a.s. Diriwayatkan oleh Tirmizi dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda : Ketika Allah menciptakan Adam, lalu Allah meniup ruh ke dalamnya, Adam lalu bersin, kemudian ia berkata “Segala puji bagi Allah” Diapun membaca tahmid dengan ijin Allah. Lalu Tuhannya berfirman kepadanya “Allah menyayangimu wahai Adam”, pergilah kepada malaikat itu dan ucapkan kepada mereka “Semoga keselamatan bagimu” lalu mereka menjawab “Dan bagimu keselamatan dan rahmat Allah” lalu Adam kembali kepada Tuhannya. Tuhannya berfirman “Sesungguhnya itu adalah salam penghormatan bagimu dan anak keturunanmu di antara mereka.

Menebarkan salam, baik yang menyampaikan salam maupun yang menjawabnya merupakan perbuatan yang terpuji. Menebarkan salam akan menjadikan kita selamat dan mempunyai kedudukan yang tinggi. Rasulullah s.a.w. bersabda : Sebarkanlah salam, kalian akan selamat. . Rasulullah s.a.w. juga bersabda : Sebarkanlah salam agar kalian menjadi tinggi.

Menebarkan salam juga akan menjadikan kita saling mencintai. Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda : Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai, maukah kalian aku tunjukkan kepadamu sesuatu jika kalian melaksanakannya kalian akan mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian (Muslim).

Demikian pula menebarkan salam merupakan salah satu perbuatan yang memudah kita masuk ke dalam surga. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda : Sebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah tali silaturahim, dirikanlah shalat pada saat malam ketika orang-orang sedang terlelap dalam tidurnya, niscaya masuklah kalian ke surga dengan selamat.

Pelajaran keempat yang kita peroleh dari penjual koran tersebut adalah bahwa ia juga selalu medoakan pelanggannya agar pelanggannya selamat dunia dan akhirat.

Sumber artikel : Mohammad Suyanto

read more...

BELAJAR DARI PENJUAL KORAN (3)

Sepeda motor kesayangan dari hasil kerja kerasnya selalu menemani sang penjual koran dan berhenti di depan rumah saya. ”Klek” bunyi standar speda motorya sambil Pak Penjual koran tersebut kemudian mengambil koran yang kami pesan ditambah koran lain sebagai bonus. Keluarga saya selalu diberi koran tambahan, pesan satu dapat dua, seperti banyak iklan di toko yang sedang berpromosi atau perusahaan yang beriklan di televisi. Itulah kejutan pertama yang dilakukan penjual koran kepada keluarga saya. Hal itu dilakukan, karena istri saya memberi kurang lebih dua kali lipat dari harga langganan agar ia tetap bersemangat menjual koran. Ia selalu mengantarkan koran ke rumah saya dengan meletakkan di meja depan atau di kursi depan, tidak seperti penjual koran lain, biasanya dilemparkan dan kadangkala korannya berhamburan di lantai. Kejutan itu membuat saya kadangkala menyongsongnya untuk memnghargainya, karena ia telah mengorbankan sedikit waktu untuk menyerahkan koran tersebut.

Pelayanan yang luar biasa adalah salah satu strategi penjual koran untuk membuat penjual koran disayangi pelanggannya dengan menyediakan waktu yang lebih kepada pelanggannya, sekitar setengah menit setiap pelanggan, yaitu waktu dari saat menstandarkan speda motor, mengambil koran kemudian berjalan menuju rumah pelanggan sampai meletakkan di atas meja atau kursi pelanggannya. Pelanggan setia penjual koran tersebut berjumlah sekitar 200 pelanggan, sehingga menambah menyediakan waktu sekitar 1,5 jam setiap hari dibandingkan penjual koran lainnya. Ia rela bekerja lebih lama dibanding pesaingnya. Hal ini menunjukkan kinerja yang melampaui zona toleransi pelanggan dan menambah nilai yang tinggi terhadap pelanggannya.

Penjual koran tersebut tidak hanya memuaskan pelanggannya, tetapi kadangkala bertindak melampaui kepuasan pelanggan dengan mengejutkan dan menyenangkan pelanggannya. Strategi yang biasa digunakan untuk melebihi harapan pelanggan antara lain, memberikan kata ucapan terima kasih dan hadiah langsung kepada pelanggan yang loyal. Spontanitas adalah merupakan hal yang terbaik. Pelanggan merasa terkesan apabila namanya dikenali. Hal itu pula yang dilakukan penjual koran tersebut mengenali nama-nama pelanggannya, termasuk nama saya. Kejutan yang dilakukan penjual koran kepada saya adalah ketika hari libur, tiba-tiba datang ke rumah saya hanya sekedar memberikan koran satu-satunya yang terbit hari itu, padahal saya tidak langganan koran tersebut. Dengan senyum manis ia mengucapkan salam dan berkata “Ini Pak korannya”. Saya jawab salamnya dan saya terima korannya sambil saya mengucapkan “Terima kasih Pak”. Meskipun ini merupakan hal yang kecil, tetapi inilah yang membuat perbedaan besar. Strategi tersebut menunjukkan bahwa pelanggan merasa dihargai, maka strategi tersebut dapat mengubah pelanggan yang hanya sekedar puas menjadi pelanggan yang mempunyai kepuasan total. Kita telah belajar dari penjual koran dalam melayani pelanggannya yang mengubah pelanggan yang hanya sekedar puas menjadi pelanggan yang mempunyai kepuasan total. Diriwayatkan dari Abu Dzarr r.a., dia berkata : Nabi s.a.w. pernah bersabda : Janganlah kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun sikapmu dengan muka manis terhadap saudaramu.

Sumber artikel : Mohammad Suyanto

read more...

BELAJAR DARI PENJUAL KORAN (2)

Meskipun kondisi fisik yang tidak sempurna dan menjelang tua, tidak menghalangi sang penjual koran tersebut tetap gigih untuk mencari nafkah dengan ketrampilan yang ada yaitu sebagai penjual koran. Ia jalani pekerjaan ini dengan suka ria dalam rangka bertanggungjawab kepada keluarganya, bertanggungjawab kepada istrinya, bertanggungjawab kepada kedua anaknya, masa depan anaknya dan memberi teladan kepada mereka. Ia tidak ingin anak-anaknya mempunyai pendidikan tidak seperti dia. Ia juga berharap agar anak-anaknya kelak dapat memperoleh pendidikan yang tinggi, bahkan dapat melanjutkan di perguruan tinggi. Cita-cita yang sangat mulia, melihat anaknya menyongsong masa depan dengan bahagia.

Kerja keras yang dilakukan penjual koran mulai membuahkan hasil, yaitu dapat membeli sepeda motor dalam rangka melayani pelanggannya agar korannya datang lebih pagi. Disamping itu penjual koran tersebut ingin selalu membahagiaan istri dan anaknya, terutama anaknya yang masih kecil. “Aku mau ikut Pak?” kata anaknya ketika akan pergi dengan sepeda motor barunya untuk mengurus suratnya. “Di rumah saja sama ibu ya?” kata penjual koran membujuk anaknya yang masih kecil tersebut. “Aku mau ikut Pak” teriak anaknya yang kecil tersebut. Penjual koran tersebut membujuknya anaknya untuk tetap tinggal di rumah bersama Ibunya.Setelah selesai dibujuk, berangkatlah ia menuju kantor di Sleman. Begitu pulang dari mengurus surat-menyurat kendaraan, ia cepat-cepat pulang berharap dapat segera membonceng anaknya yang masih TK tersebut berputar-putar di sekitar rumahnya agar anak tersebut senang dan bahagia. Sesampainya di rumah ia sangat terkejut ternyata anak yang ingin ia bahagiakan telah dipanggil menghadap Tuhan. Ia hanya menangis dan pasrah, karena anak tersebut merupakan anak yang baru lucu-lucunya, anak yang baru indah untuk dipandang, anak yang menyejukan hati, anak yang dapat mengobati rasa lelah setelah seharian berjualan koran. Ia harus mengikhlaskannya, Sang Pemilik telah memanggilnya dan berkehendak meletakkan disisi-Nya di tempat terbaik sebagai titipan surga untuk kedua orang tuanya. Di surga kelak anak tersebut memanggil-manggil ayah dan ibunya untuk bergabung bersamanya.

Thabrani meriwayatkan bahwa pada suatu ketika Rasulullah s.a.w. sedang duduk dengan para sahabatnya, tiba-tiba tampaklah di sana seorang yang masih muda yang amat kuat dan perkasa tubuhnya. Ia pagi-pagi itu telah bekerja dengan penuh semangat. Para sahabat lalu berkata : “Kasihan sekali orang ini, andaikata kemudaan serta kekuatannya itu untuk sabilillah (jalan Allah) alangkah baiknya.” Demi mendengar ucapan salah seorang sahabatnya, beliau bersabda : “Janganlah kamu sekalian mengatakan sedemikian itu, sebab orang itu kalau keluar dari rumah untuk bekerja guna mengusahakan kehidupan anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha untuk sabilillah. Jika ia bekerja itu untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang lain, itupun untuk sabilillah. Tetapi apabila bekerja karena untuk berpamer atau untuk bermegah-megahan, maka itu untuk sabilisy syaithan atau mengikuti jalan syetan. Pelajaran kedua yang kita peroleh dari penjual koran tersebut adalah bahwa ia bekerja keras untuk membahagiakan keluarganya merupakan jalan menuju Allah.

Sumber artikel : Mohammad Suyanto

read more...

BELAJAR DARI PENJUAL KORAN (1)

Sang penjual koran yang selalu rajin menghantarkan koran ke rumah saya. Lebih dari sepuluh tahun, saya setia menjadi pelanggannya. Kulitnya berwarna hitam kelam tersengat cahaya matahari setiap hari yang ditutupi dengan pakaian kebesaran jaket hitam lusuh dan topi untuk mengurangi sengatan matahari. Parfumnya tetesan keringat yang menempel pada wajahnya bagaikan orang yang baru saja menangis sejadi-jadinya. Nafas sedikit terengah-engah menggenjot sepeda tua yang sudah hampir tidak bisa dipakai dan nafas seorang menjelang tua yang baru bepergian jauh mengendarai sepedanya. Sepeda tua yang setia menemaninya kemana-mana menghantarkan koran kepada sekitar dua ratus pelanggan setianya. Tangan kanannya dihiasi oleh tanda dari Tuhan, yaitu tidak mempunyai jari. Wajahnya yang menjelang tua yang dihiasi berberapa helai uban, tetapi tetap memancarkan senyum yang bercahaya, bersemangat yang memperlihatkan dirinya seorang pekerja keras dan petarung yang pantang putus asa. Inilah pelajaran pertama yang kita peroleh dari seorang penjual koran.

Sebaliknya kita yang kulit kita seakan tak pernah bersentuhan dengan cahaya matahari, karena tertutup mobil yang mewah dan terlindung dari pakaian yang berharga mahal. Parfum dari Perancis yang mahal, dicuci bau harumnya masih kentara. Nafas lega tanpa tenaga, karena kemana-mana diantar sopir dengan kendaraan yang baru yang tidak pernah mogok. Kita diberikan wajah yang tampan dan anggota badan yang lengkap serta keluarga yang menawan. Meskipun demikian kadangkala kita menebarkan senyum yang kecut dan merendahkan orang lain serta kadangkala menjadi seorang petarung yang mudah menyerah dan mudah putus asa dengan masalah yang sepele. Bekerja dengan penuh tekanan dan kurang bersyukur dari nikmat Tuhan yang sangat melimpah.

Saya teringat sebuah kisah tetang dua orang yang tangannya dicium oleh Rasulullah s.a.w. Orang tersebut pasti orang yang luar biasa, karena hanya dua orang saja dari seluruh orang di Semenanjung Arabia. Orang pertama yang tangannya dicium oleh Rasulullah s.a.w. adalah Fatimah yang merupakan putri Rasulullah s.a.w. sendiri. Hal itu dilakukan karena Rasulullah s.a.w. ingin menunjukkan bahwa wanita itu derajadnya tinggi dan sangat mulia, karena pada waktu itu wanita seakan-akan tidak berharga dan para Bapak malu mempunyai anak wanita dan kadangkala anak tersebut dibunuhnya, sangat menyedihkan. Orang kedua adalah seorang berkulit hitam kelam dengan tangan yang melepuh. Rasulullah s.a.w. bertanya “Kenapa tanganmu melepuh seperti itu”. Jawab sahabat tersebut “ Ya Rasulullah tanganku ini aku gunakan untuk membelah batu dengan kapakku agar aku bisa menghidupi keluargaku”. “Coba ulurkan tanganmu!” Rasulullah s.a.w. meminta mengulurkan tangannya dan kemudian Rasulullah s.a.w. menangkap tangan yang kotor dan melepuh tersebut dan menciumnya seakan beliau bersabda ini adalah tangan yang dicitai Allah yang tidak lain adalah tangan dari seorang pekerja keras.

Sumber artikel : Mohammad Suyanto
read more...

Selasa, 22 Desember 2009

BELAJAR DARI PENJUAL KORAN (4)

Ia selalu mengantarka koran ke rumah saya dengan meletakkan di meja depan atau di kursi depan, tidak seperti penjual koran lain biasanya dilemparkan. Biasanya sebelum meletakkan koran di meja depan rumah saya mengucapkan salam “Assalamu ‘alaikum Pak”. Saya jawab “wa alaikum salam” dan kadangkala saya jawab lebih lengkap“ wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.” Dalam surat an-Nisa’ ayat 86 : Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.

Kadangkala saya menyongsongnya untuk menghargainya, karena ia telah mengorbankan sedikit waktu untuk menyerahkan koran. Kata-katanya yang meriah dan senyumnya yang tak pernah saya lupakan sambil memberikan koran kepada saya. “Terima kasih Pak” jawab saya sambil menerima koran tersebut. Penjual koran tersebut melanjutkan perjalanannya mengantarkan koran dari rumah ke rumah pelanggan setianya.

Salam pertama kali diajarkan oleh Nabi Adam a.s. Diriwayatkan oleh Tirmizi dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda : Ketika Allah menciptakan Adam, lalu Allah meniup ruh ke dalamnya, Adam lalu bersin, kemudian ia berkata “Segala puji bagi Allah” Diapun membaca tahmid dengan ijin Allah. Lalu Tuhannya berfirman kepadanya “Allah menyayangimu wahai Adam”, pergilah kepada malaikat itu dan ucapkan kepada mereka “Semoga keselamatan bagimu” lalu mereka menjawab “Dan bagimu keselamatan dan rahmat Allah” lalu Adam kembali kepada Tuhannya. Tuhannya berfirman “Sesungguhnya itu adalah salam penghormatan bagimu dan anak keturunanmu di antara mereka.

Menebarkan salam, baik yang menyampaikan salam maupun yang menjawabnya merupakan perbuatan yang terpuji. Menebarkan salam akan menjadikan kita selamat dan mempunyai kedudukan yang tinggi. Rasulullah s.a.w. bersabda : Sebarkanlah salam, kalian akan selamat. . Rasulullah s.a.w. juga bersabda : Sebarkanlah salam agar kalian menjadi tinggi.

Menebarkan salam juga akan menjadikan kita saling mencintai. Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda : Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai, maukah kalian aku tunjukkan kepadamu sesuatu jika kalian melaksanakannya kalian akan mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian (Muslim).

Demikian pula menebarkan salam merupakan salah satu perbuatan yang memudah kita masuk ke dalam surga. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda : Sebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah tali silaturahim, dirikanlah shalat pada saat malam ketika orang-orang sedang terlelap dalam tidurnya, niscaya masuklah kalian ke surga dengan selamat.

Pelajaran keempat yang kita peroleh dari penjual koran tersebut adalah bahwa ia juga selalu medoakan pelanggannya agar pelanggannya selamat dunia dan akhirat.

read more...

BELAJAR DARI PENJUAL KORAN (3)

Sepeda motor kesayangan dari hasil kerja kerasnya selalu menemani sang penjual koran dan berhenti di depan rumah saya. ”Klek” bunyi standar speda motorya sambil Pak Penjual koran tersebut kemudian mengambil koran yang kami pesan ditambah koran lain sebagai bonus. Keluarga saya selalu diberi koran tambahan, pesan satu dapat dua, seperti banyak iklan di toko yang sedang berpromosi atau perusahaan yang beriklan di televisi. Itulah kejutan pertama yang dilakukan penjual koran kepada keluarga saya. Hal itu dilakukan, karena istri saya memberi kurang lebih dua kali lipat dari harga langganan agar ia tetap bersemangat menjual koran. Ia selalu mengantarkan koran ke rumah saya dengan meletakkan di meja depan atau di kursi depan, tidak seperti penjual koran lain, biasanya dilemparkan dan kadangkala korannya berhamburan di lantai. Kejutan itu membuat saya kadangkala menyongsongnya untuk memnghargainya, karena ia telah mengorbankan sedikit waktu untuk menyerahkan koran tersebut.

Pelayanan yang luar biasa adalah salah satu strategi penjual koran untuk membuat penjual koran disayangi pelanggannya dengan menyediakan waktu yang lebih kepada pelanggannya, sekitar setengah menit setiap pelanggan, yaitu waktu dari saat menstandarkan speda motor, mengambil koran kemudian berjalan menuju rumah pelanggan sampai meletakkan di atas meja atau kursi pelanggannya. Pelanggan setia penjual koran tersebut berjumlah sekitar 200 pelanggan, sehingga menambah menyediakan waktu sekitar 1,5 jam setiap hari dibandingkan penjual koran lainnya. Ia rela bekerja lebih lama dibanding pesaingnya. Hal ini menunjukkan kinerja yang melampaui zona toleransi pelanggan dan menambah nilai yang tinggi terhadap pelanggannya.

Penjual koran tersebut tidak hanya memuaskan pelanggannya, tetapi kadangkala bertindak melampaui kepuasan pelanggan dengan mengejutkan dan menyenangkan pelanggannya. Strategi yang biasa digunakan untuk melebihi harapan pelanggan antara lain, memberikan kata ucapan terima kasih dan hadiah langsung kepada pelanggan yang loyal. Spontanitas adalah merupakan hal yang terbaik. Pelanggan merasa terkesan apabila namanya dikenali. Hal itu pula yang dilakukan penjual koran tersebut mengenali nama-nama pelanggannya, termasuk nama saya. Kejutan yang dilakukan penjual koran kepada saya adalah ketika hari libur, tiba-tiba datang ke rumah saya hanya sekedar memberikan koran satu-satunya yang terbit hari itu, padahal saya tidak langganan koran tersebut. Dengan senyum manis ia mengucapkan salam dan berkata “Ini Pak korannya”. Saya jawab salamnya dan saya terima korannya sambil saya mengucapkan “Terima kasih Pak”. Meskipun ini merupakan hal yang kecil, tetapi inilah yang membuat perbedaan besar. Strategi tersebut menunjukkan bahwa pelanggan merasa dihargai, maka strategi tersebut dapat mengubah pelanggan yang hanya sekedar puas menjadi pelanggan yang mempunyai kepuasan total. Kita telah belajar dari penjual koran dalam melayani pelanggannya yang mengubah pelanggan yang hanya sekedar puas menjadi pelanggan yang mempunyai kepuasan total. Diriwayatkan dari Abu Dzarr r.a., dia berkata : Nabi s.a.w. pernah bersabda : Janganlah kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun sikapmu dengan muka manis terhadap saudaramu.

Sumber artikel : Mohammad Suyanto
read more...

BELAJAR DARI PENJUAL KORAN (2)

Meskipun kondisi fisik yang tidak sempurna dan menjelang tua, tidak menghalangi sang penjual koran tersebut tetap gigih untuk mencari nafkah dengan ketrampilan yang ada yaitu sebagai penjual koran. Ia jalani pekerjaan ini dengan suka ria dalam rangka bertanggungjawab kepada keluarganya, bertanggungjawab kepada istrinya, bertanggungjawab kepada kedua anaknya, masa depan anaknya dan memberi teladan kepada mereka. Ia tidak ingin anak-anaknya mempunyai pendidikan tidak seperti dia. Ia juga berharap agar anak-anaknya kelak dapat memperoleh pendidikan yang tinggi, bahkan dapat melanjutkan di perguruan tinggi. Cita-cita yang sangat mulia, melihat anaknya menyongsong masa depan dengan bahagia.

Kerja keras yang dilakukan penjual koran mulai membuahkan hasil, yaitu dapat membeli sepeda motor dalam rangka melayani pelanggannya agar korannya datang lebih pagi. Disamping itu penjual koran tersebut ingin selalu membahagiaan istri dan anaknya, terutama anaknya yang masih kecil. “Aku mau ikut Pak?” kata anaknya ketika akan pergi dengan sepeda motor barunya untuk mengurus suratnya. “Di rumah saja sama ibu ya?” kata penjual koran membujuk anaknya yang masih kecil tersebut. “Aku mau ikut Pak” teriak anaknya yang kecil tersebut. Penjual koran tersebut membujuknya anaknya untuk tetap tinggal di rumah bersama Ibunya.Setelah selesai dibujuk, berangkatlah ia menuju kantor di Sleman. Begitu pulang dari mengurus surat-menyurat kendaraan, ia cepat-cepat pulang berharap dapat segera membonceng anaknya yang masih TK tersebut berputar-putar di sekitar rumahnya agar anak tersebut senang dan bahagia. Sesampainya di rumah ia sangat terkejut ternyata anak yang ingin ia bahagiakan telah dipanggil menghadap Tuhan. Ia hanya menangis dan pasrah, karena anak tersebut merupakan anak yang baru lucu-lucunya, anak yang baru indah untuk dipandang, anak yang menyejukan hati, anak yang dapat mengobati rasa lelah setelah seharian berjualan koran. Ia harus mengikhlaskannya, Sang Pemilik telah memanggilnya dan berkehendak meletakkan disisi-Nya di tempat terbaik sebagai titipan surga untuk kedua orang tuanya. Di surga kelak anak tersebut memanggil-manggil ayah dan ibunya untuk bergabung bersamanya.

Thabrani meriwayatkan bahwa pada suatu ketika Rasulullah s.a.w. sedang duduk dengan para sahabatnya, tiba-tiba tampaklah di sana seorang yang masih muda yang amat kuat dan perkasa tubuhnya. Ia pagi-pagi itu telah bekerja dengan penuh semangat. Para sahabat lalu berkata : “Kasihan sekali orang ini, andaikata kemudaan serta kekuatannya itu untuk sabilillah (jalan Allah) alangkah baiknya.” Demi mendengar ucapan salah seorang sahabatnya, beliau bersabda : “Janganlah kamu sekalian mengatakan sedemikian itu, sebab orang itu kalau keluar dari rumah untuk bekerja guna mengusahakan kehidupan anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha untuk sabilillah. Jika ia bekerja itu untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang lain, itupun untuk sabilillah. Tetapi apabila bekerja karena untuk berpamer atau untuk bermegah-megahan, maka itu untuk sabilisy syaithan atau mengikuti jalan syetan. Pelajaran kedua yang kita peroleh dari penjual koran tersebut adalah bahwa ia bekerja keras untuk membahagiakan keluarganya merupakan jalan menuju Allah.

Sumber artikel : Mohammad Suyanto
read more...

BELAJAR DARI PENJUAL KORAN (1)

Sang penjual koran yang selalu rajin menghantarkan koran ke rumah saya. Lebih dari sepuluh tahun, saya setia menjadi pelanggannya. Kulitnya berwarna hitam kelam tersengat cahaya matahari setiap hari yang ditutupi dengan pakaian kebesaran jaket hitam lusuh dan topi untuk mengurangi sengatan matahari. Parfumnya tetesan keringat yang menempel pada wajahnya bagaikan orang yang baru saja menangis sejadi-jadinya. Nafas sedikit terengah-engah menggenjot sepeda tua yang sudah hampir tidak bisa dipakai dan nafas seorang menjelang tua yang baru bepergian jauh mengendarai sepedanya. Sepeda tua yang setia menemaninya kemana-mana menghantarkan koran kepada sekitar dua ratus pelanggan setianya. Tangan kanannya dihiasi oleh tanda dari Tuhan, yaitu tidak mempunyai jari. Wajahnya yang menjelang tua yang dihiasi berberapa helai uban, tetapi tetap memancarkan senyum yang bercahaya, bersemangat yang memperlihatkan dirinya seorang pekerja keras dan petarung yang pantang putus asa. Inilah pelajaran pertama yang kita peroleh dari seorang penjual koran.

Sebaliknya kita yang kulit kita seakan tak pernah bersentuhan dengan cahaya matahari, karena tertutup mobil yang mewah dan terlindung dari pakaian yang berharga mahal. Parfum dari Perancis yang mahal, dicuci bau harumnya masih kentara. Nafas lega tanpa tenaga, karena kemana-mana diantar sopir dengan kendaraan yang baru yang tidak pernah mogok. Kita diberikan wajah yang tampan dan anggota badan yang lengkap serta keluarga yang menawan. Meskipun demikian kadangkala kita menebarkan senyum yang kecut dan merendahkan orang lain serta kadangkala menjadi seorang petarung yang mudah menyerah dan mudah putus asa dengan masalah yang sepele. Bekerja dengan penuh tekanan dan kurang bersyukur dari nikmat Tuhan yang sangat melimpah.

Saya teringat sebuah kisah tetang dua orang yang tangannya dicium oleh Rasulullah s.a.w. Orang tersebut pasti orang yang luar biasa, karena hanya dua orang saja dari seluruh orang di Semenanjung Arabia. Orang pertama yang tangannya dicium oleh Rasulullah s.a.w. adalah Fatimah yang merupakan putri Rasulullah s.a.w. sendiri. Hal itu dilakukan karena Rasulullah s.a.w. ingin menunjukkan bahwa wanita itu derajadnya tinggi dan sangat mulia, karena pada waktu itu wanita seakan-akan tidak berharga dan para Bapak malu mempunyai anak wanita dan kadangkala anak tersebut dibunuhnya, sangat menyedihkan. Orang kedua adalah seorang berkulit hitam kelam dengan tangan yang melepuh. Rasulullah s.a.w. bertanya “Kenapa tanganmu melepuh seperti itu”. Jawab sahabat tersebut “ Ya Rasulullah tanganku ini aku gunakan untuk membelah batu dengan kapakku agar aku bisa menghidupi keluargaku”. “Coba ulurkan tanganmu!” Rasulullah s.a.w. meminta mengulurkan tangannya dan kemudian Rasulullah s.a.w. menangkap tangan yang kotor dan melepuh tersebut dan menciumnya seakan beliau bersabda ini adalah tangan yang dicitai Allah yang tidak lain adalah tangan dari seorang pekerja keras.

Sumber artikel : Mohammad Suyanto
read more...