Rabu, 23 Desember 2009

BELAJAR DARI TUKANG BECAK (2)

Saya teringat kembali kejadian beberapa tahun silam, ketika saya berjalan di Kota Besar. Truk yang ditumpangi Bapak-bapak berseragam petugas penertiban kota, tiba-tiba berhenti di dekat saya dan sekitar sepuluh Bapak-bapak petugas tersebut turun dari truknya. Apakah akan menangkap saya? Kalau ditangkap saya salah apa? Ternyata menghentikan becak yang membawa penumpang yang lewat di sebelah saya. Kemudian, tanpa basa-basi menyuruh penumpang becak tersebut turun dan mengambil barang yang ada di becak tersebut. Penumpang tersebut bingung, kenapa ia disuruh turun dan mengambil barangnya dalam becak. Bapak petugas tersebut agak kasar, sehingga penumpang becak tersebut mengikuti perintah Bapak-bapak petugas ketertiban tersebut. Setelah penumpang turun dan mengambil barangnya, tiba-tiba Bapak-bapak petugas tersebut merampas becak tersebut, Tukang becak tersebut mempertahankan mati-matian. Satu orang melawan sepuluh orang, tukang becak tersebut tidak berdaya dan terjatuh. Becak tersebut dinaikkan ke dalam truk dan truk tersebut berjalan meninggalkan kami. Tukang becak melihat becaknya dibawa truk tersebut, menangis sejadi-jadinya sambil memukul-mukul kepalanya seperti anak kecil, ia sangat kehilangan satu-satunya senjata pamungkas untuk mengais rezki. Sangat mengenaskan. Saya bersama penumpang becak menyaksikan kejadian yang sangat memilukan, hanya dapat meniteskan air mata dan berdoa mudah-mudahan Tukang becak tersebut diberi kasabaran dan ketabahan menerima cobaan tersebut serta pemimpin yang menyuruh merampas becak tersebut diberikan kepekaan hati.

Truk yang membawa becak rampasan tersebut telah meninggalkan kami bertiga, kemudian berbelok ke ke kanan dan tidak terlihat kembali. Sementara Tukang becak tersebut masih menangis tanpa henti, menyisakan kenangan yang sangat pahit. Beberapa hari kemudian saya membaca di salah satu surat kabar, kalau becak-becak yang telah dirampas tersebut oleh para petugas diceburkan ke laut, sebagai barang yang tidak ada harganya sama sekali. Memang mereka memandang bahwa becak itu yang membuat keindahan kota menjadi berkurang, supaya tidak ada lagi becak, maka satu-satunya jalan adalah memasukkan ke laut, sehingga lama kelamaan, becak harus hilang dari peredaran. Sudut pandang yang sangat berlawanan dengan tukang becak, yang memandang becak bukan sebagai masalah yang kecil, tetapi masalah yang sangsat besar. Bahkan saya membaca di surat kabar seorang tukang becak sampai ada yang melakukan bunuh diri, karena becaknya dirampas. Sebelum bunuh diri, ia menulis surat sebagai pesan terakhir, kenapa ia bunuh diri. Masalahnya hanya satu “becaknya dirampas”.

Orang-orang tersisih tersebut ingin diperlakukan adil sebagai warga Indonesia. Tetapi kemana, harus minta peradilan? Para orang tersisih itu tidak tahu. Akhirnya hanyalah berpasrah diri kepada Tuhan Yang Maha Adil yang dapat memberikan keadilan seadil-adilnya. Saya mendoakan semoga para tukang becak yang dirampas becaknya dan orang yang tersisih di perusahaan tetap tabah dan sabar serta tidak melakukan bunuh diri, meskipun hal itu sangat sulit, tetapi kalau bisa maka ia akan menjadi orang yang mulia di sisi Tuhan.

Sumber artikel : Mohammad Suyanto

Read Also:



Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

0 komentar: on "BELAJAR DARI TUKANG BECAK (2)"

Posting Komentar