Kamis, 24 Desember 2009

BELAJAR DARI PENJUAL KORAN (1)

Sang penjual koran yang selalu rajin menghantarkan koran ke rumah saya. Lebih dari sepuluh tahun, saya setia menjadi pelanggannya. Kulitnya berwarna hitam kelam tersengat cahaya matahari setiap hari yang ditutupi dengan pakaian kebesaran jaket hitam lusuh dan topi untuk mengurangi sengatan matahari. Parfumnya tetesan keringat yang menempel pada wajahnya bagaikan orang yang baru saja menangis sejadi-jadinya. Nafas sedikit terengah-engah menggenjot sepeda tua yang sudah hampir tidak bisa dipakai dan nafas seorang menjelang tua yang baru bepergian jauh mengendarai sepedanya. Sepeda tua yang setia menemaninya kemana-mana menghantarkan koran kepada sekitar dua ratus pelanggan setianya. Tangan kanannya dihiasi oleh tanda dari Tuhan, yaitu tidak mempunyai jari. Wajahnya yang menjelang tua yang dihiasi berberapa helai uban, tetapi tetap memancarkan senyum yang bercahaya, bersemangat yang memperlihatkan dirinya seorang pekerja keras dan petarung yang pantang putus asa. Inilah pelajaran pertama yang kita peroleh dari seorang penjual koran.

Sebaliknya kita yang kulit kita seakan tak pernah bersentuhan dengan cahaya matahari, karena tertutup mobil yang mewah dan terlindung dari pakaian yang berharga mahal. Parfum dari Perancis yang mahal, dicuci bau harumnya masih kentara. Nafas lega tanpa tenaga, karena kemana-mana diantar sopir dengan kendaraan yang baru yang tidak pernah mogok. Kita diberikan wajah yang tampan dan anggota badan yang lengkap serta keluarga yang menawan. Meskipun demikian kadangkala kita menebarkan senyum yang kecut dan merendahkan orang lain serta kadangkala menjadi seorang petarung yang mudah menyerah dan mudah putus asa dengan masalah yang sepele. Bekerja dengan penuh tekanan dan kurang bersyukur dari nikmat Tuhan yang sangat melimpah.

Saya teringat sebuah kisah tetang dua orang yang tangannya dicium oleh Rasulullah s.a.w. Orang tersebut pasti orang yang luar biasa, karena hanya dua orang saja dari seluruh orang di Semenanjung Arabia. Orang pertama yang tangannya dicium oleh Rasulullah s.a.w. adalah Fatimah yang merupakan putri Rasulullah s.a.w. sendiri. Hal itu dilakukan karena Rasulullah s.a.w. ingin menunjukkan bahwa wanita itu derajadnya tinggi dan sangat mulia, karena pada waktu itu wanita seakan-akan tidak berharga dan para Bapak malu mempunyai anak wanita dan kadangkala anak tersebut dibunuhnya, sangat menyedihkan. Orang kedua adalah seorang berkulit hitam kelam dengan tangan yang melepuh. Rasulullah s.a.w. bertanya “Kenapa tanganmu melepuh seperti itu”. Jawab sahabat tersebut “ Ya Rasulullah tanganku ini aku gunakan untuk membelah batu dengan kapakku agar aku bisa menghidupi keluargaku”. “Coba ulurkan tanganmu!” Rasulullah s.a.w. meminta mengulurkan tangannya dan kemudian Rasulullah s.a.w. menangkap tangan yang kotor dan melepuh tersebut dan menciumnya seakan beliau bersabda ini adalah tangan yang dicitai Allah yang tidak lain adalah tangan dari seorang pekerja keras.

Sumber artikel : Mohammad Suyanto

Read Also:



Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

0 komentar: on "BELAJAR DARI PENJUAL KORAN (1)"

Posting Komentar